Seperti cerita dalam dongeng tentang tanah yang tidak kuat menahan air sehingga tegerus dan terbawa ke aliran sungai sampai ke laut sehingga menyebabkan daratan turun, cerita dongeng ini tentang kera mur dan pohon penjaga air. Kota Pekalongan merupakan salah satu diantara kota di Pantai Utara Jawa yang mengalami penurunan tanah yang signifikan (ditunjukan pada gambar disamping). Berdasarkan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan, penurunan tanah di Kota Pekalongan mencapai 10 s.d 30 cm per tahun namun di beberapa titik terutama yang sering terkena banjir. Upaya pemerintah pusat dan daerah yang juga mengajak akademisi dan praktisi untuk menangani masalah ini semakin intens, namun belum secara penuh dapat mengatasi keseluruhan masalah sehingga langkah-langkah yang dilakukan adalah penanganan jangka pendek.
Gambar disamping adalah kondisi mushola yang ada di sisi pekalongan utara, disini dapat kita lihat perbedaan jalan dengan atap mushola sudah hampir sejajar. Hasil wawancara dengan masyarakat, bahwa mereka tidak ada cara lain yaitu dengan keyakinan bertahan dan mereka menyadari bahwa proses ini bukan sebuah fenomena alam tp melainkan kejadian yang juga kembali kepada perilaku masyarakatnya sendiri. Pemahaman tentang zona pesisir pantai, pemahanan tentang sumber air serta pemahanan tentang sampah, hal ini yang diungkapkan oleh salah satu warga di RT.04/RW.04 Kel. Pekalongan Utara.
Mengupas hal tersebut saya dan tim melakukan penelitian secara komprehensif dalam rangka menemukenali kembali (re-inventing) Kota Pekalongan menjadi Kota Kreatif Dunia yang diberikan oleh UNESCO tahun 2014, melalui cara penelurusan dari hilir ke hulu untuk mendapatkan sejarah peradaban yang terjadi dan solusi tepat untuk masyarakat. Semoga dilancarkan amin YRA.
Oleh : Ir. Asep irwan



