Abrasi merupakan salah satu persoalan penting yang dihadapi kawasan pesisir utara Kabupaten Karawang. Dinamika gelombang, arus, pasang surut, serta transport sedimen secara terus-menerus memengaruhi perubahan garis pantai dan dapat menyebabkan kerusakan wilayah pesisir.
Mengkaji Dinamika Pantai dari Data Hidro-Oseanografi
Penelitian ini dilakukan di Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, dengan kegiatan penelitian berlangsung pada Juli–November 2019.

Untuk memahami kondisi pantai dan menentukan kebutuhan bangunan pelindung, penelitian memanfaatkan berbagai parameter hidro-oseanografi, antara lain:
| 1. Gelombang; 2. Arus; 3. Pasang Surut; 4. Batimetri; | 5. Data angin; 6. Kondisi garis pantai; 7. Data topografi. |
Data lapangan kemudian dikombinasikan dengan data sekunder, termasuk data angin ECMWF selama 10 tahun (2011–2020) serta data pasang surut dari Badan Informasi Geospasial (BIG).
Pendekatan ini memungkinkan kondisi dinamika pesisir dianalisis secara lebih komprehensif sebelum menentukan bentuk dan dimensi bangunan pelindung pantai.
Pemodelan GENESIS untuk Mensimulasikan Perubahan Garis Pantai
Salah satu bagian penting dari penelitian ini adalah penggunaan GENESIS (GENEr alized Model for SImulating Shoreline Change) untuk mensimulasikan perubahan garis pantai dan transport sedimen sejajar pantai.
Model tersebut digunakan untuk membandingkan kondisi garis pantai dengan maupun tanpa bangunan pelindung pantai, sehingga dapat membantu menentukan jenis bangunan yang sesuai dengan karakteristik lokasi penelitian.
Penelitian juga menggunakan STWAVE dalam pemodelan transformasi gelombang. Data batimetri, garis pantai, angin, dan gelombang menjadi bagian dari input pemodelan untuk menggambarkan proses yang terjadi di wilayah pesisir.

Pendekatan pemodelan ini menjadi penting karena perencanaan bangunan pantai tidak hanya mempertimbangkan bentuk fisik bangunan, tetapi juga bagaimana bangunan tersebut akan memengaruhi pola sedimentasi dan perubahan garis pantai.
Gelombang Dominan dari Arah Timur
Hasil analisis data angin selama 2011–2020 menunjukkan bahwa angin dominan di lokasi penelitian berasal dari arah Timur sebesar 27%, kemudian dari arah Tenggara sebesar 20%.
Dari hasil pembangkitan gelombang, gelombang dominan juga berasal dari arah Timur dengan kontribusi sekitar 25%, sementara arah Barat Laut mencapai sekitar 10%. Tinggi gelombang rata-rata di lokasi penelitian berada pada kisaran 0,98 meter.
Analisis pasang surut menunjukkan bahwa perairan Pantai Karawang memiliki tipe pasang surut harian tunggal, dengan bilangan Formzahl sebesar 3,84 dan tunggang pasang surut sebesar 1,22 meter. Data-data tersebut kemudian menjadi dasar dalam proses simulasi dan perencanaan bangunan perlindungan pantai.
Breakwater Dipilih sebagai Bangunan Pelindung
Berdasarkan hasil simulasi GENESIS serta kondisi hidro-oseanografi dan karakteristik pantai, penelitian merencanakan penggunaan breakwater sebagai bangunan pelindung pantai.
Breakwater merupakan bangunan pemecah gelombang yang ditempatkan sejajar dengan garis pantai untuk mengurangi energi gelombang yang mencapai pantai.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa gelombang pecah menuju lokasi penelitian terjadi pada kedalaman sekitar 6,5 meter, dengan tinggi gelombang pecah sekitar 1,35 meter. Dengan mempertimbangkan jarak gelombang pecah dan kriteria pembentukan salient/tombolo, penelitian kemudian menentukan konfigurasi breakwater yang direncanakan.
| Parameter | Hasil Perencanaan |
|---|---|
| Tipe bangunan | Breakwater |
| Tinggi bangunan | 6 meter |
| Jarak dari garis pantai | 50 meter |
| Panjang bangunan | 100 meter |
| Jarak antarbangunan | 20 meter |
Konfigurasi tersebut diperoleh melalui rangkaian analisis hidro-oseanografi, pemodelan perubahan garis pantai, serta perhitungan tata letak bangunan pelindung.
Dari Data Menjadi Perencanaan Perlindungan Pantai
Hal menarik dari penelitian ini adalah bagaimana data hidro-oseanografi diterjemahkan menjadi sebuah rancangan teknis. Proses penelitian dimulai dari pengumpulan data lapangan dan data sekunder, dilanjutkan dengan analisis angin, pasang surut, gelombang dan batimetri. Selanjutnya dilakukan pemodelan menggunakan GENESIS untuk melihat perubahan garis pantai dan menentukan alternatif bangunan pelindung.
Hasil pemodelan kemudian digunakan untuk menentukan:
Jenis bangunan → Lokasi bangunan → Jarak dari pantai → Panjang bangunan → Jarak antar bangunan.
Dengan pendekatan tersebut, perencanaan perlindungan pantai tidak hanya didasarkan pada kondisi eksisting, tetapi juga mempertimbangkan respons garis pantai terhadap keberadaan bangunan pelindung.
Relevansi untuk Pengelolaan Pesisir
Penelitian ini memberikan gambaran mengenai pentingnya integrasi antara data hidro-oseanografi, pemodelan numerik, dan rekayasa pantai dalam menghadapi persoalan abrasi.
Bagi pengelolaan wilayah pesisir, pendekatan seperti ini dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan dalam menentukan alternatif perlindungan pantai, terutama pada wilayah yang mengalami perubahan garis pantai dan tekanan aktivitas pesisir.
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa pemahaman terhadap pola gelombang, pasang surut, transport sedimen dan perubahan garis pantai merupakan komponen penting sebelum sebuah bangunan perlindungan pantai direncanakan.
Baca Paper Lengkap
Paper “Perencanaan Bangunan Pelindung Pantai untuk Pencegahan Abrasi di Pantai Utara Karawang” tersedia di Jurnal Kelautan Nasional dan dapat dibaca secara lengkap melalui laman jurnal.
Penulis: Roberto Patar Pasaribu, Asep Irwan, Chrisoetanto Pattirane
Jurnal: Jurnal Kelautan Nasional
Volume: 16, Nomor 3, Desember 2021
Halaman: 221–234
DOI: 10.15578/jkn.v16i3.9831
Kata kunci: hidro-oseanografi, bangunan pantai, abrasi, sedimentasi, breakwater, groin, GENESIS.
Baca selengkapnya: Perencanaan Bangunan Pelindung Pantai – Jurnal Kelautan Nasional



